Senin, 27 Agustus 2012

Laporan Praktikum Menyusun Ransum


BAB I. PENDAHULUAN
1.1.        Latar Belakang
Pemberian pakan ternak disesuaikan dengan umur, berat badan dan produksinya. Umumnya pada masa pertumbuhan dan produksi membutuhkan protein dan energi lebih banyak dibanding masa lainnya. Sapi yang sedang berproduksi disediakan pakan berdasarkan berat badan, produksi susu dan kandungan lemak susu. Pada anak sapi kolostrum atau susu induk diberikan mulai umur 2 hari sampai dengan 3,5 bulan. Pemberian kolostrum mulai umur 2 hari sampai 4 minggu ditambah sedikit demi sedikit, kemudian setelah 4 minggu dikurangi sedikit demi sedikit, sedangkan hijauan diberikan sejak umur 2 minggu dengan cara sedikit demi sedikit ditambah. Supaya tidak terjadi kekurangan mineral Mg maka mulai umur 2 minggu sudah diberikan hijauan dan umur 4 minggu ditambahkan konsentrat (Wordpress 2008).
Penambahan konsentrat pada sapi bertujuan untuk meningkatkan nilai pakan dan menambah energi. Tingginya pemberian pakan berenergi menyebabkan peningkatan konsumsi dan daya cerna dari rumput atau hijauan kualitas rendah. Selain itu penembehan konsentrat tertentu dapat menghasilkan asam amino essensial yang dibutuhkan oleh tubuh. Penambahan konsentrat tertentu dapat juga bertujuan agar zat makanan dapat langsung diserap di usus tanpa terfermentasi di rumen, mengingat fermentasi rumen membutuhkan energi lebih banyak (Wordpress 2008).
.
   
1.2.        Maksud dan Tujuan
1.    Mahasiswa mengerti dan mampu bagaimana cara menghitung/menyusun ransum yang tepat sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak sapi perah.
2.    Mahasiswa mampu mencampur sendiri ransum ternak sapi perah.

 BAB II. MATERI DAN METODE

2.1.        Alat dan Bahan
1.    Peralatan
-       Mixer Horizontal
-       Mixer Vertikal
-       Timbangan
-       Karung
-       Mesin jahit
-       Sekop
2.    Bahan
-       Pollard                    61,25 kg
-       Bekatul                   61,25 kg
-       Bungkil sawit          43,75 kg
-       Promix                    20 kg
-       Tetes                       12,5 kg
-       Mineral                    1,25 kg
-       Bungkil kopra         50 kg
-       Dedak                     5 kg
2.1.        Cara Kerja
-       Timbang semua bahan
-       Bekatul seberat 20 kg ditimbang dan dicampur dengan tetes, digiling dalam mixer vertikal, kemudian ditambahkan lagi bekatul sebanyak 10 kg, campurkan bahan selama 10 menit didalam mixer vertikal.
-       Semua bahan dicampur termasuk campuran bekatul dan tetes, masukkan kedalam mixer horizontal, giling selama 30 menit/satu kali penggilinga, dilakukan sebanyak tiga kali penggilingan.
-       Setelah bahan homogen, bahan dipacking dengan memasukkan kedalam karung sebanyak 50 kg kemudian ujung karung dijahit.

 








BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

            Bahan yang dibuat untuk menyusun ransum ternak sapi perah dalam praktikum sebanyak 255 kg setelah melalui proses penyusunan ransum didapat hasil akhir bahan 254 kg, bahan yang hilang 1 kg. Hal ini dapat disebabkan oleh pada saat penimbahan awal masing-masing bahan tidak tepat, dapat juga disebabkan pada saat pencampuran bahan banyak bahan yang tidak masuk kedalam mixer, dan pada saat pengemasan bahan kedalam karung terdapat bahan-bahan yang berserakan dilantai.
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Bahan dalam Praktikum
No.
Bahan
Kandungan  Nutrisi
PK
Protein
1.
Bekatul
1,72
7
2.
Pollard
3,43
14
3.
Bungkil sawit
3,68
21
4.
Promix
1,44
18
5.
Tetes
0,05
1
6.
Mineral
-
-
7.
Bungkil Kopra
4,60
23
Sumber: Laboraturium NMK STPP Malang
Menurut Wordpress (2008), berdasarkan kandungan gizinya konsentrat dibagi dua golongan yaitu konsentrat sebagai sumber energi dan sebagai sumber protein. Konsentrat sebagai sumber protein apabila kandungan protein lebih dari 18%, Total Digestible Nutrision (TDN) 60%. Ada konsentrat yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Berasal dari hewan mengandung protein lebih dari 47%. Mineral Ca lebih dari 1% dan P lebih dari 1,5% serta kandungan serat kasar dibawah 2,5%. Contohnya: tepung ikan, tepung susu, tepung daging, tepung darah, tepung bulu dan tepung cacing. Berasal dari tumbuhan, kandungan proteinnya dibawah 47%, mineral Ca dibawah 1% dan P dibawah 1,5% serat kasar lebih dari 2,5%. Contohnya: tepung kedelai, tepung biji kapuk, tepung bunga matahari, bungkil wijen, bungkil kedelai, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit dll. Konsentrat sebagai sumber energi apabila kandungan protein dibawah 18%, TDN 60% dan serat kasarnya lebih dari 10%. Contohnya: dedak, jagung, empok, polar dan lain-lain.
              Konsentrat yang baik apabila terdiri dari bermacam-macam bahan pakan supaya mendapatkan asam amino yang lengkap. Untuk pembuatan konsentrat harus diperhatikan bahan pakan yang digunakan sebagai penyusun ransum, baik dalam cara penyediaan maupun kandungan gizinya. Perlu diperhatikan pada pemberian jagung  harus diimbangi dengan pemberian bahan yang berasal  dari kedelai, pada pemberian bahan  yang berasal dari kedelai sebaiknya dimasak terlebih dahulu,karena kedelai mengandung zat anti tripsin yang rusak bila kena panas. Konsentrat  pada sapi diberikan sesuai dengan tipenya. Sapi perah yang berproduksi  tinggi yang kadar lemak yang diinginkan tinggi maka membutuhkan protein tertinggi. Sedangkan protein sangat sedikit dibutuhkan pada sapi yang sedang masa kering. Program perhitungan pakan pada sapi biasanya dihitung berdasarkan bahan kering (Wordpress 2008).
Tabel 2. Pembuatan Konsentrat menurut Wordpress (2008)
 Berat badan (kg)
Produksi susu
(l)
Lemak susu (%)
Kebutuhan untuk sapi
Protein (gr)
Me(m. Kal)
TDN
(kg)
350
10
3
1111
21,46
16,82

15

1496
26,81
18,23

20

1881
32,16
19,64

25

2266
37,51
21,05
400
10
3
1143
22,6
17,82

15

1528
27,95
19,23

20

1913
33,33
20,64

25

2298
38,65
22,05





Tabel 3. kebutuhan Zat zat gizi Untuk Hidup Pokok dan Produksi Sapi Perah
Berat Badan
Untuk Hidup Pokok
Kadar lemak susu
Untuk Produksi 1 kg Susu
Protein (gr)
Me
(m. Kal)
Tdn (kg)
Lemak susu (%)
Protein (gr)
Me
(m.kal)
TDN (kg)
350
341
10,76
14
2,5
72
0,99
0,260
400
373
11,90
15
3,0
77
1,07
0,282
450
403
12,99
17
3,5
82
1,16
0,304
500
432
14,06
18
4,0
87
1,24
0,326
550
461
15,11
20
4,5
92
1,31
0,344
600
489
16,12
21
5,0
98
1,39
0,369
Sumber: Wordpress, 2008.
Blogspot (2010), mengatakan bahwa penyusunan  formulasi ransum bertujuan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi seperti:  energy, protein, vitamin dan mineral agar produktifitas ternak dapat maksimal. Atau dengan kata lain, menyediakan ransum yang baik secara nutrisional,  agar dapat dikonsumsi  dalam jumlah yang cukup untuk mendukung tingkat produksi pada harga yang layak.
Beberapa informasi dasar yang dibutuhkan untuk penyusunan ransum antara lain:
·         Kebutuhan Zat makanan dan periode pemeliharaan, yaitu berdasarkan kepada kebutuhan konsumsi bahan kering  dan periode pemeliharaan (laktasi dan non laktasi). Konsumsi bahan kering dapat diberikan sebesar 2,5 – 3 % dari bobot badan,  tergantung pada : bobot badan, tinggi rendahnya produksi susu, periode laktasi, kondisi lingkungan,kondisi tubuh, jenis dan kualitas pakan terutama hijauan. Pada sapi laktasi berproduksi tinggi, kebutuhan energy kadang-kadang tidak terpenuhi karena keterbatasan konsumsi bahan kering sehingga dapat menurunkan bobot badan dan produksi.
·         Bahan Pakan. Perlu diperhatikan beberapa hal yaitu: Ketersediaan bahan lokal, harga serta kandungan  zat makanan dalam bahan yang akan digunakan
·         Tipe ransum yang akan dibuat. Hal  ini erat hubungannya  dengan komposisi yang dibutuhkan serta kandungan zat makanan. Misalnya tipe ransum lengkap (complete ration) yang merupakan campuran biji-bijian yang dicampur dengan hijauan.
·         Konsumsi Ransum. Banyak faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum seperti: Konsumsi energi (sangat besar pengaruhnya terhadap konsumsi ransum), bentuk fisik ransum dan palatabilitas ransum.
Menurut Koperasifu (tt), untuk mendapatkan pakan sapi yang berkualitas, komponen/bahan baku  penyusun ransum untuk pakan sapi  harus dievaluasi. Ada beberapa cara yang biasa dilakukan antara lain:
·         Analisa fisik, Dengan melihat bentuk, warna, aroma,dsb, agar tidak menyimpang dari yang disyaratkan.
·         Analisa Kimia. Banyak metode-metode kimia yang dapat digunakan untuk mengukur kandungan zat makanan pada setiap bahan pakan. salah satu metode yang sangat umum digunakan adalah metode analisis Proksimat. Metode ini dapat memberikan gambaran mengenai komposisi kimia suatu bahan meliputi kandungan air, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.
·         Percobaan daya cerna dan keseimbangan zat makanan. Percobaan ini mengukur jumlah bahan pakan yang dikonsumsi oleh ternak yang diukur pada periode waktu tertentu, termasuk juga eksresi fecesnya (kotoran sapi).




·         Percobaan pemberian pakan pada ternak. Ditujukan untuk mengukur produksi yang dihasilkan setelah diberikan pakan  seperti; pertumbuhan berat badan atau produksi susunya
Kualitas pakan ini sangat menentukan hasil  produksi yang dihasilkan  dari usaha peternakan, oleh sebab itu data-data dari hasil penilaian kualitas pakan sangat penting karena akan digunakan dalam penyusunan ransum ternak (Koperasifu, tt).



















BAB IV. KESIMPULAN

Pelaksanaan menyusun ransum diharapkan dapat memenuhi kandungan nutrisi ternak sapi perah sesuai dengan kebutuhan hidup pokok dan prosuksi susu setiap hari. Dengan demikian usaha peternakan sapi perah dapat memberikan hasil yang memuaskan.




















DAFTAR PUSTAKA

Blogspot. 2010. Penyusunan Formulasi Ransum Sapi Perah. http://bisnis-harian.blogspot.com/2010/09/penyusunan-formulasi-ransum-sapi-perah.html. [16 Mei 2012].
Koperasifu. tt. Penyusunan Formulasi Pakan Sapi Perah. http://koperasifu. wordpress.com/. [16 Mei 2012].
Wordpress. 2008. Pakan Ternak Bag2. https:// wordpress.com/2008/10/pakan-ternak-bag2.doc. [16 Mei 2012].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar